Arsip Tag: temple

Talud Kumitir, setelah Ditemukan, Ayo Rawat dan Selamatkan Cagar Budaya Indonesia Ini.

Saya memasuki jalan tanah berdebu. Di kiri saya berderet Linggan (tempat orang membuat bata merah) yang beberapa bagian bangunannya terlihat compang-camping. Maklumlah, kan hanya tempat berteduh sejenak sekaligus tempat pembakaran bata merah. Seorang  warga yang awalnya duduk di pinggir jalan, tiba-tiba berdiri dan meminggirkan kursinya seraya mengarahkan untuk jalan terus lurus. Telunjuknya menunjukkan tempat parkir. Sesuai arahan, kendaraan saya parkir di pinggir tembok makam umum.

 Tiba-tiba seorang mbah putri (nenek tua) mengejutkan saya karena muncul begitu saja dari dalam area makam. “Purun tumbas pelem tah Nak?” tanya beliau (Mau beli mangga tah Nak?). Saya tidak menjawab tapi segera ambil uang secukupnya dan saya berikan pada nenek tua. “Pelemnya untuk cucu di rumah saja, Mbah” kata saya. Setelahnya saya bergegas memasuki sebuah Linggan kosong, untuk  ngiyup (berteduh ) sejenak. Berlindung dari sengatan matahari. Sambil berteduh, saya lihat sekeliling. Akhirnya, saya  temukan arah kemana kaki saya harus melangkah.

Linggan tempat pembuatan bata (dokpri)
Linggan tempat pembakaran bata merah

Ya, Minggu siang itu, 9 November 2019, saya datang ke Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Mojokerto  tepat saat mentari begitu menyengat. Lokasinya tak jauh dari Petirtaan Candi Tikus dan Candi Bajang Ratu, yang masuk kawasan wisata Cagar Budaya Trowulan. Kedua situs ini adalah bagaian dari Cagar Budaya Indonesia yang sudah cukup dikenal. Sebelumnya sempat salah tujuan , lantaran GPS (Global Positioning System) menuntun ke lokasi berupa tanah  lapang, di tengah kampung, di Timur sebuah Balai Desa, 

Maka, jurus GPS lain pun dikeluarkan. Gunakan Penduduk Setempat. Ternyata, lebih simpel dan akurat. Seorang perempuan muda yang rumahnya tepat di pinggir tanah lapang,  ramah menjawab pertanyaan saya. Tinggal ikuti petunjuknya, belok kanan sekali dan belok kiri sekali, sampailah di lokasi yang saya inginkan. Lokasi yang dalam beberapa minggu terakhir viral gara-gara ditemukan struktur bangunan bata kuno yang konon peninggalan era Majapahit.

Setelah menyesuaikan dengan atmosfer setempat, saya pun melangkah perlahan keluar Linggan dan mencari jalan turun ke tempat struktur bangunan yang bikin heboh itu. Media cetak, online dan elektronikpun sudah silih berganti datang di lokasi ini untuk meliputnya. Tak mau kalah, para Vlogger juga berlomba menampilkan liputannya agar para netizen bisa menikmatinya. Akhirnya, seperti biasanya, lokasi temuan tumpukan bata merah ini pun jadi objek kunjungan wisata dadakan. Termasuk saya tentunya…..

dokpri
Lokasi Talud Kumitir
Tanah yang bagus untuk pembuatan bata merah (dokpri)

Talud

Saat awal ditemukan, berbagai macam komentar dan opini bermunculan. Ada yang menyebut struktur bata ini bagian dari  tembok bangunan istana Majapahit. Lainnya mengatakan struktur ini  bagian dari tembok benteng istana. Namun, begitu BPCB Trowulan  turun tangan dan melakukan ekskavasi, barulah muncul struktur yang sebenarnya. Menurut Pak Wicaksono, arkeolog dari BPCB Trowulan, struktur bata ini  adalah sebuah Talud. 

Dahulu, talud ini dibangun sebagai penahan tanah sekaligus berfungsi sebagai batur dari sebuah pelataran dengan cara menguruk di bagian dalamnya dengan tanah. Lalu dibangunlah disitu (ditengah-tengah talud) entah pendopo, balai-balai atau bangunan lainnya.  Biasanya talud ini dibangun berbentuk bujur sangkar dengan tangga masuk di bagian tengahnya. Bagian tepi luar talud diperkeras dengan menggunakan bata merah. Bagian tepi dalam diurug dengan tanah.

Talud Kumitir ini istimewa. Ekskavasi berhasil menyingkap tak kurang dari 100 meter panjang talud. Kemungkinan panjangnya akan bertambah. Jika suatu ketika diketahui panjang dan bentuk asli dari talud ini (yang saat ini sudah demikian panjang ), maka para arkeolog akan makin penasaran dibuatnya. Bangunan apa yang dulu berdiri megah di atas Talud Kumitir ini? Rasa penasaran untuk sementara disimpan, karena proses penggalian masih berhenti.  Belum ada izin dari pemilik lahan untuk melanjutkan penggalian.

Pojok talud yang belum digali (dokpri)
Ujung Talud yang belum digali
(dokpri)
Bagian belakang talud untuk emnimbun tanah (dokpri)
Bagian belakang Talud yang tidak teratur menandakan ini bukan tembok istana atau tembok benteng

Talud Kumitir membujur ke Utara dan Selatan. Di setiap jarak 5 meter terdapat semacam pilar, yang juga terbuat dari bata merah. Lebar talud sekitar 1,5 meter. Tinggi talud dari pondasi sekitar 2 meter. Jika dihitung, untuk membuat talud setinggi itu diperlukan kurang lebih 23 buah bata merah yang ditumpuk dan sudah melalui proses penggosokan untuk menempelkan satu dengan lainnya. Kondisinya sangat lekat. Tidak mudah prothol (tercerai berai). karena satu dengan lainnya seakan dilekatkan dengan perekat yang kuat. 

Talud ini sudah terkubur di bawah tanah dengan ketebalan antara 1 meter sampai 2 meter. Banyak pendapat diungkapan sebagai hipotesis terpendamnya Talud Kumitir ini. Ada yang mangatakan talud ini tertimbun abu letusan Gunung Kelud yang meletus berulang kali. Pendapat lain, talud ini tertimbun material kiriman dari Sungai Pikatan yang mengalir didekatnya yang meluap akibat meluncurnya lahar dingin dari Pegunungan Anjasmara di sebelah Selatan.  

Pilar dan Pondasi talud (dokpri)
Pilar untuk memperkuat Talud

Pendarmaan Nara Singa Murtti/ Mahisa Cempaka

Jika taludnya kecil, maka  bagunan di pelataran talud juga kecil. Namun, jika talud yang bangun panjang dan lebar, tentunya arsitek  pembangunnya juga membangun sesuatu bangunan yang besar dan megah di atasnya. Akhirnya, pak Wicaksono menunjukkan sebuah catatan di Kakawin Nagara Krtagama. Sebuah naskah kuno yang dikarang oleh Mpu Prapanca saat Raja Hayam Wuruk berkuasa.

Bunyinya: 

.samantara  muwah bathara  nara singha murtti sira mantuking sura pada, hanar sira dhinarmma de haji ei wengkeruttama siwarcca munggwi  kumitir

….. sementara itu Baginda Raja Narasinga Murti pun berpulang ke sorga, tidak lama berselang oleh  Baginda Raja diabadikan di Wengker dengan mengutamakan Arca Siwa di Kumitir. Nagara Krtagama Pupuh 41

Maka, tak salah kiranya para arkeolog menghubungkan Talud Kumitir ini sebagai tempat pendarmaan Narasinga atau Mahisa Cempaka, teman dekat, sahabat dan saudara sepupu dari Wisnuwardhana Raja Singhasari yang menurunkan raja terbesar Singhasari, Prabu Kertanegara. Kemungkinan, di zaman Majapahit, di Kumitir inilah  -yang termasuk batas istana Majapahit sebelah timur-  dibangun tempat yang megah sebagai bakti dari para cucu (yakni raja-raja dan keluarga istana Majapahit) pada kakek buyutnya yang dulu berkuasa di Singhasari. Lantaran, Mahisa Cempaka adalah ayah Raden Wijaya, pendiri Keraton Majapahit.

Boleh jadi, ekskavasi Talud Kumitir akan sangat potensial menemukan sesuatu yang spektakuler di masa depan, karena  di makam, dekat saya parkir kendaraan, banyak ditemukan bongkahan batu andesit yang biasanya digunakan sebagai bahan penyusun candi. Selain itu,  ditemukan juga beberapa umpak yang berfungsi sebagai penyangga tiang.

Rawat dan Selamatkan

Temuan Talud Kumitir ini tentu saja viral dan jadi objek wisata dadakan di kalangan masyarakat. Akibatnya, berbondong-bondong mereka mengunjungi lokasi temuan talud ini. Di satu sisi ini menggembirakan karena masyarakat begitu peduli akan temuan situs baru peninggalan masa lampau. Namun, sisi yang lain, kunjungan masyarakat ke lokasi temuan yang tidak terkontrol jelas akan sangat merugikan keberadaan temuan itu sendiri. Sangat disayangkan jika dengan pengetahuan yang terbatas, ada anggota masyarakat loncat naik turun talud atau berjalan di atas sepanjang talud. Ini jelas akan membahayakan konstruksi talud yang dibangun tanpa perekat khusus. Bisa-bisa, ada bagian-bagian talud yang akan ambrol karena kondisinya yang sudah dimakan usia dan tidak mampu menahan beban.

Talud ini dikalangan arkeolog termasuk temuan yang spektakuler dan menjanjikan. Selama ini, Trowulan sudah dikenal sebagai bekas kerajaan Majapahit. Tapi dimana persisnya istana raja, rumah kerabat raja, tempat pendarmaan raja, belum ditemukan secara pasti. Maka, talud ini adalah salah satu pembuka jalan menemukan lokasi istana yang sudah digambarakan dalam kitab Nagara Krtagama.

Seyogyanya, semua elemen masyarakat secera sendiri-sendiri maupun bersama-sama patut merawat dan melindungi talud ini. Mencegah talud dari perbuatan sengaja maupun tidak sengaja yang mengancam kerusakan.

Langkah awal yang bisa dilakukan tentunya sosialisasi cagar budaya kepada masyarakat sekitar dimana talud ini berada. Terutama pada pembuat bata merah yang setiap hari bersinggungan dengan konstruksi talud. Lalu sosialisasi kepada lingkup masyarakat yang lebih luas termasuk pada generasi muda. Caranya, memanfaatkan media sosial dengan semaksimal mungkin untuk kampanye perawatan dan penyelamatan cagar budaya. Semoga temuan-temuan objek sejarah ini akan makin memperkaya koleksi Cagar Budaya Indonesia.

Mari kita sukseskan Kompetisi Blog Cagar Budaya Indonesia tahun 2019 ini sebagai salah satu sumbangsih kita untuk penyelamatan Cagar Budaya Indonesia.